Penurunan mutu ikan dapat
terlihat dengan adanya perubahan fisik, kimia, dan organoleptik. Proses
perubahan tersebut akhirnya mengarah pada pembusukan. Urutan proses perubahan
mutu yang terjadi pada ikan meliputi perubahan pre-rigor, rigor mortis, aktivitas
enzim, mikroba, dan oksidasi. Proses kemunduran mutu ikan akan terus
berlangsung jika tidak dihambat. Tanda-tanda pada proses kemunduran mutu ikan
tidak hanya disebabkan oleh aktivitas bakteri tapi perubahan biokimia pada
daging juga sangat berpengaruh. Proses kemunduran mutu ikan disajikan pada
Gambar 1.
Fase pre-rigor
merupakan peristiwa terlepasnya lendir dari kelenjar di bawah permukaan kulit.
Lendir yang dikeluarkan ini sebagian besar terdiri dari glukoprotein dan musin
yang merupakan media ideal bagi pertumbuhan bakteri. Lendir-lendir yang
terlepas akan membentuk lapisan bening yang tebal disekeliling tubuh ikan.
Pelepasan lendir dari kelenjar merupakan reaksi alami dari ikan yang sedang
sekarat terhadap keadaan yang tidak menyenangkan. Jumlah lendir yang terlepas
dan menyelimuti tubuh sangat banyak hingga mencapai 1-2,5% dari berat tubuhnya.
Perubahan rigor mortis
merupakan akibat dari suatu rangkaian perubahan kimia yang kompleks di dalam
otot ikan sesudah kematiannya. Setelah ikan mati, sirkulasi darah berhenti dan
suplai oksigen berkurang sehingga terjadi perubahan glikogen menjadi asam
laktat yang disebut glikolisis. Perubahan ini menyebabkan terjadinya
akumulasi asam laktat sehingga pH tubuh ikan menurun. Selain itu, terjadi juga
penurunan jumlah adenosin trifosfat (ATP) serta ketidakmampuan jaringan otot
mempertahankan kekenyalannya. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah rigor
mortis. Penguraian ATP berkaitan erat dengan terjadinya rigor mortis.
Pada saat ATP mulai mengalami penurunan, rigor mortis mulai terjadi dan
mencapai kejang penuh (full-rigor) ketika ATP sekitar 1 µmol/g. Energi
pada jaringan otot ikan diperoleh secara anaerobik dari pemecahan glikogen.
Proses glikolisis menghasilkan ATP dan asam laktat.Akumulasi asam laktat
selain menurunkan pH otot, juga diikuti oleh peristiwa rigor mortis.
Proses penguraian jaringan daging ikan secara enzimatis setelah ikan mati disebut autolisis. Perubahan enzimatik berhubungan dengan penguraian senyawa kompleks menjadi lebih sederhana dan akan dimanfaatkan oleh bakteri. Pada beberapa jenis komoditas perikanan, perubahan enzimatik terjadi paling awal dan mendominasi pembusukan ikan yang disimpan pada suhu dingin. Autolisis berperan dalam bermacam-macam tingkat pembusukan secara keseluruhan dan sebagai media pertumbuhan bakteri.
| Gambar 1. Proses Kemunduran Mutu Ikan |
Proses penguraian jaringan secara enzimatis berjalan dengan sendirinya setelah ikan mati dengan mekanisme yang kompleks. Beberapa enzim yang berperan dalan proses ini, antara lain katepsin (dalam daging), tripsin, kemotripsin, dan pepsin (dalam organ pencernaan) serta enzim dari mikroorganisme yang ada pada tubuh ikan. Enzim-enzim yang dapat menguraikan protein (proteolitik) berperan penting dalam proses kemunduran mutu ikan. Jenis enzim yang terlibat dalam proses kemunduran mutu ikan dapat dilihat pada Tabel 1. Autolisis dimulai bersamaan dengan menurunnya pH. Mula-mula, protein dipecah menjadi molekul-molekul makro yang menyebabkan peningkatan dehidrasi protein dan molekul-molekulnya pecah menjadi protease, lalu pecah menjadi pepton, polipeptida, dan akhirnya menjadi asam amino. Selain itu, dihasilkan pula sejumlah kecil pyrimidine dan purine basa yang dibebaskan pada waktu asam nukleat memecah.
Tabel 1. Jenis enzim yang terlibat
dalam proses kemunduran mutu ikan
|
Enzim |
Substrat |
Perubahan |
|
Glikolitik |
Glikogen |
Produksi asam laktat,
penurunan pH, dan hilangnya daya ikat air pada daging ikan |
|
Autolitik |
ATP, ADP, AMP,
dan IMP |
Turunnya tingkat kesegaran
ikan dan terbentuknya hipoksantin |
|
Katepsin |
Protein atau
peptida |
Pelunakan daging |
|
Kemotripsin dan
tripsin |
Protein atau
peptida |
Pecahnya perut ikan |
|
Calpain |
Myiofibril |
Pelunakan |
|
Kolagenase |
Jaringan ikat |
Pelunakan dan gaping |
|
TMAO demtilase |
TMAO |
Terbentuknya formaldehid |
4. Aktivitas Bakteri
Daging ikan yang baru
ditangkap masih steril karena memiliki sistem kekebalan yang mencegah bakteri
tumbuh pada daging ikan. Setelah ikan mati, sistem kekebalan tersebut tidak
berfungsi lagi dan bakteri dapat berkembang biak dengan bebas. Pada permukaan kulit,
bakteri bergerak ke seluruh tubuh dan selama penyimpanan bakteri menyerang
daging bergerak antara serat otot. Jumlah mikroorganisme yang menyerang sangat
terbatas dan pertumbuhan bakteri sebagian besar berlangsung dipermukaan. Proses
pembusukan terjadi akibat adanya enzim yang dihasilkan bakteri yang merusak
bahan gizi pada daging ikan. Bakteri yang berperan pada pembusukan ikan dapat
dilihat pada Tabel 2.
Pembusukan yang disebabkan
oleh aktivitas bakteri tidak akan terjadi sebelum masa rigor mortis berakhir.
Pada akhir fase rigor saat hasil penguraian makin banyak, kegiatan bakteri
pembusuk mulai meningkat. Jika fase rigor telah lewat (badan ikan mulai melunak)
maka kecepatan pembusukan akan meningkat. Aktivitas bakteri dapat menyebabkan
berbagai perubahan biokimiawi dan fisikawi yang pada akhirnya menjurus pada
kerusakan secara menyeluruh yang disebut sebagai busuk. Jumlah bakteri yang
terdapat pada tubuh ikan ada hubungannya
dengan kondisi perairan tempat ikan tersebut hidup. Bakteri yang umumnya ditemukan pada ikan
adalah bakteri Pseudomonas, Alcaligenes, Sarcina, Vibrio, Flavobacterium,
Serratia, Bacillus. Pada ikan air tawar juga terdapat jenis bakteri Aeromonas,
Lactobacillus, Bevibacterium dan Streptococcus.
Tabel 2. Bakteri yang berperan pada pembusukan ikan
|
Bakteri |
Senyawa yang dihasilkan |
|
Shewanella putrefaceins |
TMA, H2S, CH3SH,
(CH3)2S, Hipoksantin |
|
Photobacterium
phosphoreum |
TMA dan Hipoksantin |
|
Pseudomonas sp. |
Keton, aldehid, ester |
|
Vibrionaceae |
TMA dan H2S |
|
Bakteri anaerobik |
NH3, asetat, asam
propionat dan butirat |
5. Oksidasi Lemak
Oksidasi lemak dikaitkan dengan perubahan awal yang terjadi pada jaringan otot setelah ikan mati. Proses ini diawali dengan penghilangan proton dari karbon utama asam lemak tak jenuh. Reaksi berantai tersebut membentuk hidroperoksida yang siap dipisahkan dan dikatalisasi oleh ion-ion logam berat dan hemeprotein yang mengandung besi. Oksidasi lemak cenderung terjadi pada saat penyimpanan beku (frozen storage) dibandingkan dengan penyimpanan dingin (chill storage) (0-2°C), dan dapat berkaitan dengan enzim maupun non-enzim. Enzim-enzim seperti lipoxygenase, perixodase, dan enzim-enzim mikrosomal dari jaringan otot hewan kemungkinan besar dapat memulai peroksidasi lemak yang menghasilkan hidroperoksida. Penguraian hidroperoksida menjadi aldehid, keton, dan alkohol menyebabkan berubahnya rasa. Lemak ikan yang kaya akan asam lemak tak jenuh omega 3 rentan terhadap oksidasi yang meningkatkan aldehid omega 3 yang menyebabkan perubahan rasa oksidatif tertentu.
Social Media