BLANTERORIONv101

Penanganan Ikan

10 Desember 2025

Perkembangan industri perikanan yang semakin maju menuntut bahan baku yang digunakan bermutu baik. Bahan baku untuk produk perikanan yang banyak dikonsumsi harus mempunyai masa simpan yang lama tanpa penambahan bahan pengawet. Efek samping bahan pengawet akan berpengaruh terhadap karakteristik bahan baku dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Penanganan bahan baku hasil perikanan yang diterapkan akan menentukan mutu dan masa simpannya. Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan yang baik sehingga dihasilkan bahan pangan dengan mutu tinggi.

Ikan termasuk bahan pangan yang sangat mudah rusak (highly perishable food) sehingga memerlukan penanganan yang baik. Ikan yang tidak ditangani dengan baik akan mengalami kemunduran mutu dengan cepat. Kondisi fisik dan komposisi kimiawi ikan saat dipanen merupakan kriteria mutu pada ikan segar. Faktor tersebut juga menjadi penyebab dominan kerusakan mutu ikan dibandingkan penyebab lainnya seperti kontaminasi. Tingkat kemunduran mutu ikan ditentukan sejak penangkapan, pengolahan, sampai penyajian. Mutu ikan berhubungan erat dengan tingkat kesegarannya. Ikan dikatakan bermutu baik jika masih dalam kondisi segar. Ikan segar didefinisikan sebagai ikan yang baru ditangkap, belum disimpan dan diolah, serta memilki sifat-sifat kesegaran yang kuat. Keadaan seperti inilah yang paling disukai sebagai bahan pangan.  Kesegaran ikan ditentukan dari proses penanganan yang diterapkan. Ikan yang masih segar berarti belum mengalami perubahan-perubahan biokimiawi, mikrobiologi, maupun fisikawi yang dapat menyebabkan kerusakan berat pada daging ikan. Ciri-ciri ikan segar dan busuk dapat dilihat pada Tabel 1.

 1. Prinsip Penanganan Ikan

Penanganan ikan harus dilakukan dengan tepat untuk mendapatkan ikan bermutu tinggi. Pada prinsipnya, ikan harus ditangani dengan hati-hati (careful), bersih (clean), disimpan pada suhu dingin (cold), dan cepat (quick). Penanganan ikan harus dilakukan dengan hati-hati mulai dari ikan ditangkap sampai siap dikonsumsi. Proses penangkapan dan pembongkaran ikan di kapal harus dilakukan dengan hati-hati karena kerusakan fisik ikan dapat menyebabkan kontaminasi. Penanganan ikan juga harus dilakukan dengan bersih seperti sanitasi dan higiene tempat penanganan, air yang digunakan, dan pekerjanya. Sanitasi dan higeiene harus dijaga untuk mengurangi kontaminasi pada ikan. Penanganan ikan dapat diawali dengan mematikan ikan dengan segera dan membuang isi perutnya. Pembuangan isi perut bertujuan untuk menyingkirkan bagian utama yang menyebabkan pembusukan, misalnya bakteri dan enzim.

Penyimpanan ikan selama proses penanganan harus dilakukan pada suhu dingin. Hal tersebut dilakukan agar faktor penyebab pembusukan seperti enzim dan bakteri dapat ditekan. Suhu dingin dapat menghambat aktivitas enzim dan pertumbuhan bakteri pada ikan sehingga kesegaran ikan dapat terjaga. Penerapan rantai dingin harus diterapkan mulai dari penanganan ikan di kapal, tempat pelelangan ikan (TPI), pasar, dan konsumen. Penanganan ikan harus dilakukan dengan segera dan cepat agar pembusukan dapat dihambat sehingga mutu ikan dapat terjaga. Penanganan ikan yang terlambat tidak dapat meningkatkan mutu ikan karena telah terjadi kerusakan akibat proses biokimiawi yang kompleks dalam tubuh ikan. Oleh karena itu, penerapan proses penanganan ikan harus dilakukan dengan benar dan sesuai prinsipnya.

 Tabel 1. Ciri-ciri ikan segar dan busuk

Parameter

Kondisi Segar

Kondisi Busuk

Mata

Pupil hitam menonjol dengan kornea jernih, bola mata cembung dan cemerlang atau cerah

Pupil mata kelabu tertutup lendir seperti putih susu, bola mata cekung, dan keruh

Insang

Warna merah cemerlang atau merah tua tanpa adanya lendir, tidak tercium bau yang menyimpang (off odor)

Warna merah coklat sampai keabu-abuan, bau menyengat, lendir tebal

Tekstur

daging

Elastis dan jika ditekan tidak ada bekas jari, serta padat dan kompak

Daging kehilangan elastisitasnya atau lunak dan jika ditekan dengan jari maka bekas tekanannya lama hilang

Keadaan

kulit dan

lendir

Warna sesuai dengan aslinya dan cemerlang, lendir dipermukaan jernih dan transparan dan baunya segar khas menurut jenisnya

Warnanya sudah pudar dan memucat, lendir tebal dan menggumpal serta lengket, warnanya berubah seperti putih susu

Keadaan

perut dan sayatan

daging

Perut tidak pecah masih utuh dan warna sayatan daging cemerlang jika ikan dibelah daging melekat kuat pada tulang terutama rusuknya

 

Perut sobek, warna sayatan daging kurang cemerlang dan terdapat warna merah sepanjang tulang belakang serta jika dibelah daging mudah lepas

Bau

Spesifik menurut jenisnya, dan segar seperti bau rumput laut, pupil mata kelabu tertutup lendir seperti putih susu, bola mata cekung dan keruh

Bau menusuk seperti asam asetat dan lama kelamaan berubah menjadi bau busuk yang menusuk hidung

 2. Parameter Mutu Ikan

Mutu mengandung arti nilai-nilai tertentu yang diinginkan pada suatu materi, produk atau jasa, seperti hasil pertanian pada umumnya. Produk hasil perikanan memiliki paling kurang beberapa aspek mutu antara lain aspek bio-teknis, sanitasi dan higiene, industrial, dan lain-lain. Mutu ikan merupakan nilai-nilai tertentu yang diinginkan dari ikan. Spesifikasi persyaratan mutu ikan segar dapat dilihat pada Tabel 2.

 Tabel 2. Spesifikasi persyaratan mutu ikan segar

Jenis Uji

Satuan

Persyaratan Mutu

a). Organoleptik

            Nilai min.

 

 

7

b). Cemaran mikroba

      1). ALT/g, maks

   2). Escherichia coli

   3). Vibrio cholerae *)

 

koloni/g

APM/g

Per 25 gam

 

5 x 105

<3

negatif

Keterangan: ALT = Angka Lempeng Total (ALT)

                     APM = Angka Paling Memungkinkan

 Tingkat  kesegaran adalah tolok ukur untuk membedakan ikan yang bermutu baik dan buruk.  Ikan dikatakan masih segar jika perubahan-perubahan biokimia, mikrobiologi, dan fisika yang terjadi belum menyebabkan perubahan sifat-sifat ikan pada waktu masih hidup. Ikan yang telah busuk bukan saja tidak enak, tetapi juga membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan mutu ikan yang akan dikonsumsi. Pemeriksaan mutu dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

a.  Pemeriksaan organoleptik atau sensorik

b.  Pemeriksaan di laboratorium (fisik, kimia, dan mikrobiologis)

c.  Menggunakan alat-alat seperti freshness measure, electrik freshness tester

Analisis yang biasa digunakan untuk mangevaluasi kesegaran ikan adalah metode organoleptik. Metode ini sangat cepat, murah, dan praktis untuk dikerjakan, tetapi ketelitiannya sangat tergantung pada tingkat kepandaian orang yang melaksanakannya. Metode organoleptik merupakan metode penilaian dengan menggunakan indra manusia. Pengukuran mutu secara sensoris dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu sampel yang diuji, metode penilaian, dan panelis. Pemeriksaan kesegaran ikan dilaboratorium dapat dilakukan dengan lebih teliti dan obyektif. Metode yang digunakan harus memenuhi beberapa kriteria yaitu waktu yang relatif singkat, penilaian yang singkat, biaya yang murah, dan menghasilkan nilai yang dapat diulang serta memiliki korelasi dengan nilai pengamatan secara sensoris. Metode yang sering digunakan adalah mengukur kadar TVB dan menghitung jumlah bakteri (ALT).

Prinsip penetapan TVB adalah menguapkan senyawa-senyawa volatil yang terbentuk karena penguraian asam-asam amino yang terdapat pada daging ikan.  Kesulitan yang timbul dalam pengunaan metode TVB adalah nilai yang tidak meningkat banyak selama tahap awal dari proses penguraian dan hanya meningkat banyak secara nyata sebagai hasil aktivitas mikroba  pada tahap lebih lanjut dari proses kemunduran mutu ikan. Pengujian bakteri yang terdapat pada daging ikan dapat dilakukan dengan menggunakan metode ALT. Metode ALT merupakan perhitungan jumlah bakteri yang ditumbuhkan pada suatu media pertumbuhan dan diinkubasi selama 24 jam.

Pemeriksaan lebih rinci untuk menentukan derajat kesegaran ikan dapat dilakukan dengan metode pengukuran nilai K (K-Value). Nilai K dihitung berdasarkan jumlah ATP dan hasil-hasil uraiannya. Nilai-K mulai digunakan oleh Saito dan Arai (1957) yang kemudian dimodifikasi oleh Uchiyama et al. (1970) dan Karube et al. (1984) menjadi rumus:

K = ((I+Hx)/(ATP+ADP+IMP+I+Hx)) x 100%

 Keterangan: ATP = Adenosine Triphosphate

         ADP = Adenosine Diphosphate

                    IMP  = Inosine Monophosphat

                      I     = Inosin

                     Hx   = Hipoxantine

Komentar